036. Keheningan…

muslimah1

Sejak tiga bulan terakhir hidup saya berubah, saya jarang sekali bisa tidur cepat, saya tidak mampu tidur ditempat tidur saya sendiri bahkan, saya lebih suka tidur diatas sajadah, berteman dengan buku, berkawan dengan tasbih, saya lebih suka menghabiskan waktu di temani tilawah dan isak tangis saya sendiri yang mulai mengering, saya berubah menjadi orang yang mudah sekali menangis, udah cengeng tambah cengeng deh, duh!! dan satu yang pasti saya tahu seberapa dekatnya saya dengan pemilik jiwa saya sekarang …

Saya berubah menjadi orang yang begitu merindukan kehadiranNya, iya saya sangat membutuhkan Allah untuk membuat saya mampu membuka mata keesokan harinya tanpa rasa luka, bangun tanpa sakit disekujur tubuh saya, tanpa sesak didada karena rindu yang menghimpit, ternyata saya masih sangat saya sangat merindukan semua yang hilang dari hidup saya selama dua bulan ini, dan jika bukan karena Allah mungkin saya sudah lupa bahwa saya masih harus bernapas..

Dua bulan ini saya penuhi dada saya dengan lebih mencari Allah, tahajud menjadi keseharian saya, menunggu dari satu waktu shalat ke waktu shalat yang lain tanpa melakukan apapun, gak pengen kerja gitu? iya, i lost my appetite to work, dan Al Quran kini menjadi sahabat, beginilah hijrah, setelah dihina, setelah ditinggalkan, tapi cukuplah bagi saya ALLAH.. cukuplah semua menjadi bagian dari qodarullah, bagian dari penghapus dosa dosa yang berserakan selama ini. Dan selebihnya saya hanya robot yang menjalankan rutinitas, jiwa saya kosong jika tanpa dia dan tanpaNya.

ya Rabb, penuhi jiwa ini dengan satu rindu, rindu untuk mendapatkan rahmatMu, hamba bersimpuh dengan ketiadaan, hamba merangkak mendekatimu dalam kesendirian hening, hingga waktu memangil, ya Allah, hamba merindukannya yang pergi, entah sampai kapan!! Sampaikan salam hamba untuknya ya Rabb, bahwa hamba masih sangat mencintainya hingga terhenti napas hamba.

Saya ingin menjadi sungai yang bisa bertemu dengannya di lautan nanti … saya ingin berlari ditengah hamparan sawah dan mendapatinya diujung saung itu, seperti dulu dia selalu ada saat saya menangis, seperti dia yang dulu selalu membentangkan tangannya untuk menyambut saya lari kedalam pelukannya.

@hijrahnotes

Advertisements

025. Hening…

Image result for berdoa

Dari dulu saya selalu suka kata “Hening” buat saya kata ini oase yang menyejukan, iya hening adalah saat saya menghabiskan waktu diatas sajadah, hanya saya dan Allah, berbicara dalam, hening adalah saat saya berbincang dengan hati nurani saya, menanyakan pada hati apa yang sedang ia rasakan? rasa apa yang paling dominan muncul, marahkah? sedihkah? kecewakah? bahagiakah? terhimpitkah? sesakkah? takutkah? khawatirkah atas keadaan yang kadang hati nurani sendiri tidak pernah mengerti, inikah rasa yang dominan? rindukah? cintakah? kosongkah?

Kadang kita, terutama saya sangat menikmati saat saat hening ini, biasanya saya lakukan setiap habis shalat, atau di sepertiga malam, saat bumi pun hening, saat tidak ada yang bisa saya ajak bicara kecuali nurani saya sendiri, setelah satu rasa dominan saya dapatkan, maka waktunya saya berdialog dengan Allah, Tuhan saya yang selalu paham apa yang nurani saya rasakan, jika rindu yang dominan, maka saya doakan agar Allah menyampaikan rasa rindu ini, jika cinta yang dominan, saya serahkan pada pemilik cinta, karena cinta pada Allah harus diatas cinta cinta yang lain, ini tidak boleh tidak, wajib begini, karena hati saya adalah milik Allah, dan cinta yang ada diantara kami adalah titipan Allah, jika titipan maka atas kesadaran penuh saya akan bergantung pada pemilik hati saya, pemilik hati orang orang yang saya cintai karenaNYA

Allah Maha Tahu, dimana DIA kita letakan dihati kita, di level pertama atau kedua atau terakhir. Ketika saya berhijrah, yang pertama saya lakukan adalah menakar diri pada saat hening, menakar dan menilai lagi rasa takut saya pada Allah, rasa cinta saya pada Allah, pada Rasul, pada Quran, setelah semua cinta cinta ini terpenuhi, baru saya cintai suami saya dan anak anak karena Allah dan Rasul, bergantung dan berharap Allah ridho memberikan orang orang yang saya cintai ini menjadi bagian dari napas saya… lalu saya bersyukur mereka masih ada karena Allah, Allah yang hadirkan mereka dalam hidup saya, dalam perjalanan saya, dan salah satu cara mencinta ALLAH adalah dengan mensyukuri dan menjaga setiap pemberianNya. Dengan terus memupuk cinta yang Allah titipkan.

Saya belajar takut pada Allah pada saat HENING..

-Hijrah Notes-

024. Jangan Takut, Ada Allah..

quran-quotes-1

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketentuan-ketentuan atas makhluk-Nya limapuluh tahun sebelum mereka diciptakan”,  hadits ini menguatkan saya yang lemah, hadits ini harusnya menjadi pegangan bagi mereka yang beriman, bagi kita yang mengaku beriman kepada takdir baik dan buruk, life as simple as that.. #menasehatidiri

Jika yang menghidupkan, yang mematikan, dan yang memberi rezeki itu adalah Allah, lalu mengapa ada rasa takut kepada manusia, takut kepada takdir yang tak sesuai dengan keinginan, kenapa? Qadha itu sudah selesai diciptakan Allah, tidak ada sesuatu yang bergerak di dunia ini, kecuali atas izin Allah, termasuk apa apa yang terjadi pada kita, tugas kita apa? hanya beribadah, gak kerja? gak usaha? usaha yang pertama adalah ibadah, melibatkan Allah, nah kalau sudah melibatkan Allah terus yakin yang terjadi termasuk ikhtiar kita ada ditangan Allah, Allah yang atur, kan gitu yah? life as simple as that…

Mengapa harus risau, sedih, dan putus asa? Bukanlah depresi, insomania dan abses merupakan akibat dari putus asa dan ketakutan yang berlebihan untuk jatuh dan gagal? dimana jiwa kita yang mengaku beriman terhadap qadha dan qadhar..

Kekhawatiran, kecemasan, kegelisahan, dan ketakutan terhadap kemiskinan adalah bagian dari perdayaan setan kepada manusia, sebagaimana ditegaskan didalam Al-Qur’an: Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah/2:268). Kalau mau jadi temennya setan maka teruslah gelisah, bunuhlah jiwa dengan ketakutan, tapi apa iya kita mau ikut setan masuk neraka, setan tuh butuh teman memang, tapi kita orang yang beriman, JANGAN mau jadi temennya setan, cepet cepat taubat dan kembali hanging with ALLAH, bergantung jangan lepas..

Yang penting bagi kita, serahkan segalanya pada Allah, hilangkan sikap ketergantungan kepada makhluk dan mengalihkan sepenuhnya kepada Allah. Yang membuat kesuntukan dan kegusaran itu adalah bergantung kepada manusia lain, keinginan mencari simpati, mencari perhatian, keinginan dipuji, dan takut dihina dan dicela, ingin dibahagiakan. Kita perlu berusaha melapangkan hati. Jika hati sudah lapang maka semua problem menjadi kecil, seperti dikatakan oleh  Al-Mutanabbi dalam sebuah bait syairnya: “Masalah kecil menjadi besar di mata orang yang kecil, dan masalah besar menjadi kecil di mata orang besar”. #nyes !!

Yuk, lapangakan dada, terima saja, jalani saja.. ada Allah, makanya jangan jauh jauh dari Allah, terus dzikir, karena hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang, again life as simple as that ..

-Hijrah Notes-

020. Menikah …

3150557_201507081137560387

Dulu sebelum menikah, saya tidak pernah paham apa arti menikah yang sesungguhnya, menyatukan dua orang dari keluarga berbeda lalu bersatu dalam janji suci yang disaksikan oleh Allah dan para Malaikatnya? apa ini saya yang disebut menikah yaitu ijab qobul, ehhmmm rasanya lebih dari itu, menikah adalah menyatukan dua jiwa dalam ikatan halal dan suci, ibarat menyatunya darah dan daging, yang tak mungkin terpisahkan? kan darah dan daging tak mungkin terpisah, bagaimana memisahkannya coba? tapi ada saja mereka yang menikah lalu berpisah, belum tepat berarti analogi darah dan daging, jadi menikah itu apa? menyempurnakan separuh agama? Masya Allah, apa iya yang mereka yang sudah menikah lalu ibadahnya menjadi sempurna, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak menikah hingga ajal memintanya kembali pulang…

Saya mencoba mentadaburi ayat ini “Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu dan kamu pun  (para suami) adalah pakaian bagi mereka,” (QS. Al-Baqorah: 187) artinya saya adalah pakaian bagi suami saya dan suami saya adalah pakaian bagi saya, yang jika saya tidak menutupinya sempurna maka aib bagi suami saya, maka saya punya kewajiban untuk menyempurnakan pakaian suami saya, dengan akhlak yang baik, dengan ketaatan yang tinggi, dengan taqwa yang lebih dari kemarin, karena menikah seharusnya menjadi jembatan untuk saling mendekatkan diri pada Alla, jika kemarin shalat sendiri kini shalat berdua, jika kemarin yang membangunkan tahajud adalah alarm kita kecupan mesra di kening, dan dihiasi dengan segala keindahan dimata Allah *mohon pembaca yang belum menikah jangan bapper.. hehehe* semua ada waktunya yah.. akan datang masa semua menikah !!

Lalu apa menikah itu hanya berisi yang indah indah saja, tidak juga, memasuki bulan ke empat pernikahan saya, mulai terlihat berbagai kejutan yang selama ini tidak saya temui dari diri suami saya, dan kejutan kejutan yang pasti dari diri saya juga, karena kita berdua disatukan bukan karena kesempurnaan, tapi karena kita masing masing memiliki kekurangan lalu pernikahan menyempurnakan, gimana tuh? kekuarangan saya adalah kelebihan suami saya dan kekurangan suami saya adalah kelebihan bagi saya, yang harus saya berikan untuk menutupi kekuarangannya..

Pahami bahwa dalam pernikahan itu ada janji-janji suci. Janji kepada orang tua, janji kepada pasangan, janji kepada saksi-saksi dan seluruh orang yang menyaksikan pernikahan. Dan, yang paling utama adalah janji kepada Allah atas pernikahan tersebut. Janji pernikahan itu disebut dalam al-Qur’an sebagai mitsaqan ghaliza(janji yang teramat berat, Q.S Annisa 4: 21). Hanya ada tiga mitsaqan ghaliza yang disebut al-Qur’an. Jadi kalau ada suami atau istri yang meremehkan perjanjian ini, percayalah, dia tidak layak untuk diperjuangkan..

Tepatnya menikah adalah menikah memang tentang berbagi ruang, tepatnya adalah mengempeskan ego untuk berbagi, tanpa kemampuan mengempeskan ego, rumah tak akan menjadi tangga, karena kita dua manusia yang memiliki ego lalu disatukan untuk saling berbagi, agar saya bisa menjadi pakaian yang nyaman dipakai bagi suami dan suami menjadi pakaian yang indah menutupi kekurangan saya.

– Hijrah Notes-

019. Terima Diri..

life-quotes

Kita tidak perlu menjadi orang lain, kita cukup menjadi diri kita sendiri. Kalau kita harus membandingkan-bandingkan, cukuplah membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita yang kemarin, yang harusnya menjadi lebih baik, karena jika tidak lebih baik maka rugi waktu yang kita lewati.. kan gitu yah?

Kita tidak membutuhkan penerimaan dari semua orang, apalagi mengorbankan diri dengan menjadi seperti yang orang lain inginkan hanya agar bisa diterima oleh semua orang sementara kita tidak bisa menerima diri kita sendiri. Kita lah yang seharusnya paling bisa menerima diri kita sendiri, bukan orang lain, masa lalu yang mungkin kelam, segala kekurangan dan kelebihan kita hari ini, segala ujian dan nikmat yang datang, bentuk fisik dan keadaan yang ada pada kita bukankah hal yang paling sulit, penyakit yang sudah menempel di tubuh, TERIMA !! karena terima gak terima dia tetap ada ditubuh kita sebagai bagian dari pemberikan Allah.

Kalau nanti diperjalanan kita bertemu dengan orang-orang yang memandang sebelah mata, kepada apa yang kita miliki dan tidak kita miliki, kepada pekerjaan, kepada nasab, kepada fisik, kepada segala hal yang selama ini membuat kita berbeda dengan orang lain. Teruslah berjalan. Karena semakin lama kita mendengarkan perkataannya, semakin lama kita menatap matanya, kita akan semakin merasa seperti apa yang orang itu bilang, padahal hidup bukan tentang manusia menilai kita tapi tentan Allah menilah kita, Allah ciptakan kita bukan untuk diratapi tapi untuk di syukuri, semua orang punya dosa, semua orang punya kekurangan, semua orang punya ujian, semua punya seperti yang kita punya hanya caranya beda, perjalanannya beda, bentuknya beda. Maha Adil Allah…

Penolakan orang lain memang menyakitkan tapi sungguh tidak ada yang lebih berat dan menyakitkan selain penolakan dari diri kita sendiri. Padahal sampai mati nanti, kita akan hidup dalam tubuh ini dan didalam jiwa ini, suatu ketika kita harus mempertanggungjawabkan semua itu.

Bukankah berat, menjadi diri sendiri? apalagi menjadi orang lain, ingat bahwa ketika kita digigit anjing kita tak harus menggigitnya lagi untuk menyatakan bahwa kita lah jagoannya, bahwa kita benar !! 

-Hijrah Notes-

018. Menangislah..

air-mata

Saya memiliki seorang sahabat, Meutia namanya, saya mengenalnya dari sejak kami masih anak anak yang berlarian menuju surau untuk belajar mengaji, dengan jilbab yang kedodoran dan sandal jepit, hingga kini saat waktu mendewasakan kami, kami masih tetap bersahabat, meski jarang bertemu tapi hati kita nyambung, kadang apa yang sedang ia rasakan mampu saya rasakan dan apa yang saya rasakan dirasakan olehnya, perempuan mungil bermata teduh, pemilik kulit putih dan gigi kelinci yang menjadi ciri khas sahabat saya ini, dia perempuan kuat karena beberapa kali lolos dari maut saat darahnya tidak stabil, iya, dia memiliki kelainan darah yang bisa membuat maut menghentikan napasnya kapan saja, dan dari beberapa kali saya menemaninya saat sakit, dia kuat dan lolos maut, Allah sepertinya sangat mencintainya, melihat dari ujian demi ujian yang mampu dilaluinya..

Baru baru ini saya bertemu dengannya di salah satu sujud masjid tempat biasa kami bertemu dibilangan kebayoran, disudut ini kami biasa saling bertukar cerita, mulai dari menangis bareng mengingat beratnya ujian, atau sekedar saling tersenyum mengingat masa masa jahil atau jahiliyah kami dulu, minimal kami berbagi cerita, tapi pertemuan kali ini agar berbeda, Meutia kehilangan senyumnya, dan saya kehilangan Meutia yang kuat yang saya kenal dulu, yang saya tahu ujian seberat apapun tak membuatnya tumbang, tapi kali ini saya melihat dia seperti diluluh lantakan oleh ujian, dihempas oleh gelombang yang maha dahsyat sehingga yang saya temui hanya isak tangisnya, tanpa cerita..

Iya, cerita yang saya tunggu tunggu tidak keluar dari mulut mungilnya, Meutia !! saya belum pernah selama mengenalnya melihatnya menangis hingga terguncang bahunya, meski isaknya pelan, guncangan dibahunya menunjukan beban yang mungkin tak sanggup lagi dipikulnya..

Dan hingga perjalanan pulang, hingga kami berpisah di parkiran, tak satu patah katapun keluar dari mulutnya, Meutia selalu begitu, hanya butuh seseorang memberikannya bahu untuk menampung tangisnya, hanya butuh seseorang memeluknya untuk sekedar mengubah airmatanya menjadi senyum, hanya butuh belaian kecil di punggunya untuk sekedar meringankan beban isaknya …

Menangislah ….

-Hijrah Notes-

 

017. Waktu …

hour-glass

Beberapa hari ini saya merenung, bertanya pada diri sendiri lebih tepatnya “seberapa lama lagikah waktu yang saya miliki didunia ini?” jika umur saya seumur Khadijah, perempuan mulia istri Rasul yang meninggal di usia 65, maka berapa tahun lagi yang saya miliki? ah terlalu sedikit rasanya waktu tersisa, terlalu banyak yang tersia sia kemarin, baru sadar semua waktu berlalu dan semua yang berlalu tak akan pernah kembali.. bahkan sedetik berlalu tak bisa saya lawan, bergulir, melindas, menghapus, lalu berlalu…

Waktu telah menipu saya, membuat terlena dengan hal hal yang sia sia, hal hal yang tak bermanfaat dimata Allah, belum sempat dzikir pagi tahu tahu sudah sore, belum sempat sedekah banyak, tahu tahu uangnya sudah habis untuk makan, padahal makan itu kelezatannya hanya sebatas lidah, yang paling sering adalah waktu habis bersama gadget daripada bersama Al Quran, baru niat mau ngaji waktu sudah tergadaikan oleh social media, udah niat mau ikut liqo setiap minggu tiba tiba kesiangan karena urusan ini dan itu yang gak jelas. Mau Duha pagi pagi tiba tiba sudah ketemu orang dan matahari mulai meninggi dan adzan Dhuhur. Mau shalat awal waktu, dikamar mandi kelamaan melamun bersama gadget.. ah harusnya memang buang semua social media, seperti yang suami saya minta.

Kepinginnya tiap pagi membaca 1 Juz ayat ayat Al-Qur’an, menambah hafalan satu hari satu Ayat, tapi yaa itu hanya kepengen saja, kenyataannya tak satupun Ayat terhafal setiap hari, lagi lagi waktu merampas kesempatan, waktu masih saya habiskan untuk menilai orang lupa menilai diri sendiri, sibuk mencari kesalahan orang lalu merasa benar hanya karena dosa saya dan dosanya berbeda… astaghfirullah !! dan ini yang berat komitmen untuk ‘Tahajud dan Witir’, sekalipun hanya ‘3 Raka’at singkat, bablas kesirep dinginnya malam dan gak rela ninggalin selimut.

Mau sampai kapan berhura hura dengan waktu, sedang malaikat pencabut nyawa terus mengikuti, bahkan kain kafan saya mungkin telah tertenun, tak bisa saya melawan usia, tak bisa saya ingin terus muda dan melalukan semua yang saya inginkan, mau sampai kapan? karena mati tidak menunggu tua, mati tidak perlu pake alasan sakit, mati tak menunggu saya kaya, mati tak menunggu anak anak saya besar, NO.. !! kiamat kecil bisa datang kapan saja tanpa bisa saya hindari..

Sekarang saatnya habiskan waktu dengan semua yang bisa meringakan saya dihari pembalasan, berteman dengan Al Quran, bersilaturahmi dengan sang Khalik, tak ada lagi waktu yang boleh terlewati tidak untuk Allah, tidak untuk Ibadah.. semoga masih ada waktu melakukan jihad, taubat..

-Hijrah Notes-