032. Nikmat Sakit

Image result for muhasabah

Badan ini terasa semakin ringan, napas yang kadang sesak, membuat semua makanan yang masuk rasanya sia sia, rasanya seperti kapas, maka untuk menyiasatinya saya berpuasa, karena toh makan juga tak menambah berat, hehehe… seperti yakin bisa lari sekencang mungkin tapi apa daya untuk berdiri saja saya butuh usaha yang luar biasa, karena darah yang saya miliki mulai sering mengental kata dokter akibat asupan insulin yang kurang dari pangreas yang lumpuh. Dan ini menyebabkan saya lebih sering lemes dan rasanya mau pingsan..

Tapi untuk yang kesekian kalinya saya masih bisa tersenyum dan mengucap syukur masih diberikan napas setiap paginya. Untuk apa bernapas? ini pernah menjadi pertanyaan saya setiap pagi.. tapi sekarang tak saya pertanyakan lagi, karena Allah memberikan nikmat untuk waktu yang masih tersisa ini..

Terbesit untuk terus menulis, setiap hari kalau perlu seperti buku “Surat Kecil Untuk Tuhan” sedikit coretan untuk menumpahkan uneg uneg, atau sekedar melegakan napas, atau sekedar membuat beberapa catatan yang bisa dibaca oleh orang orang yang mencintai saya setelah saya tiada nanti, agar termotivasi diri ini bahwa saya sangat disayang dan sedang diperhatiin oleh Allah.

Nikmat Tuhan manakah yang sanggup hamba dustakan? mulai terasa firman ini sangat berarti untuk memupuk rasa syukur dalam keadaan seberat apapun, pada saat semua orang pergi, setidaknya saya punya Allah, penyakit boleh datang, orang boleh menghina saya, boleh meninggalkan saya, boleh meniadakan saya tapi selama masih ada Allah, everything gonna be okey, right?

Karena terus menangisi keadaan tak membuat pangreas saya sembuh, bahkan mau berteriak sakitpun, teriakan tak akan membuat darah saya normal, karena hati yang terluka menjadi pemicu semua organ ini menjadi tak berfungsi, apa mau berteriak sekeras kerasnya lalu semua orang tahu kalo ini sakit banget, dan membuat saya merasa perlu dikasihani bahwa saya ini lemah dan tidak berdaya? NO, cukup hanya Allah yang tahu, karena hanya Allah yang bisa menyembuhkan, jikapun tak sembuh, Allah memberi saya waktu untuk bermesraan denganNya..

Jadi sudah diam saja, perbanyak istigfar. Jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu… kata Allah begitu, ya begitu.. jalani saja, jikapun semua harus berakhir disini, setidaknya syarat dan ketentuan Allah sudah saya jalankan untuk sabar dan shalat !! kan gitu yah?

Saya sering sekali bermuhasabah di tengah malam tentang kematian saya suatu waktu nanti, rasanya kalo jiwa ini diambil pulang, pahala apa yang bisa dihisap, kebaikan apa yang bisa jadi penolong, amalan amalan apa yang akan meringankan pertanyaan pertanyaan alam kubur yang selalu diterangkan guru agama saat sekolah dasar dulu..

Irhamnna ya Allah, bagaimanapun keadaan pada saat kematian saya nanti, saya ingin pulang khusnul Khatimah, pada saat saya berada di level keimanan tertinggi meski tanpa pelukan lelaki kesayangan seperti janji diatas mimpi yang selama ini saya gantung dilangit, saya ingin pulang dalam kebaikan..

-Hijrah Notes-

Advertisements