020. Menikah …

3150557_201507081137560387

Dulu sebelum menikah, saya tidak pernah paham apa arti menikah yang sesungguhnya, menyatukan dua orang dari keluarga berbeda lalu bersatu dalam janji suci yang disaksikan oleh Allah dan para Malaikatnya? apa ini saya yang disebut menikah yaitu ijab qobul, ehhmmm rasanya lebih dari itu, menikah adalah menyatukan dua jiwa dalam ikatan halal dan suci, ibarat menyatunya darah dan daging, yang tak mungkin terpisahkan? kan darah dan daging tak mungkin terpisah, bagaimana memisahkannya coba? tapi ada saja mereka yang menikah lalu berpisah, belum tepat berarti analogi darah dan daging, jadi menikah itu apa? menyempurnakan separuh agama? Masya Allah, apa iya yang mereka yang sudah menikah lalu ibadahnya menjadi sempurna, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak menikah hingga ajal memintanya kembali pulang…

Saya mencoba mentadaburi ayat ini “Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu dan kamu pun  (para suami) adalah pakaian bagi mereka,” (QS. Al-Baqorah: 187) artinya saya adalah pakaian bagi suami saya dan suami saya adalah pakaian bagi saya, yang jika saya tidak menutupinya sempurna maka aib bagi suami saya, maka saya punya kewajiban untuk menyempurnakan pakaian suami saya, dengan akhlak yang baik, dengan ketaatan yang tinggi, dengan taqwa yang lebih dari kemarin, karena menikah seharusnya menjadi jembatan untuk saling mendekatkan diri pada Alla, jika kemarin shalat sendiri kini shalat berdua, jika kemarin yang membangunkan tahajud adalah alarm kita kecupan mesra di kening, dan dihiasi dengan segala keindahan dimata Allah *mohon pembaca yang belum menikah jangan bapper.. hehehe* semua ada waktunya yah.. akan datang masa semua menikah !!

Lalu apa menikah itu hanya berisi yang indah indah saja, tidak juga, memasuki bulan ke empat pernikahan saya, mulai terlihat berbagai kejutan yang selama ini tidak saya temui dari diri suami saya, dan kejutan kejutan yang pasti dari diri saya juga, karena kita berdua disatukan bukan karena kesempurnaan, tapi karena kita masing masing memiliki kekurangan lalu pernikahan menyempurnakan, gimana tuh? kekuarangan saya adalah kelebihan suami saya dan kekurangan suami saya adalah kelebihan bagi saya, yang harus saya berikan untuk menutupi kekuarangannya..

Pahami bahwa dalam pernikahan itu ada janji-janji suci. Janji kepada orang tua, janji kepada pasangan, janji kepada saksi-saksi dan seluruh orang yang menyaksikan pernikahan. Dan, yang paling utama adalah janji kepada Allah atas pernikahan tersebut. Janji pernikahan itu disebut dalam al-Qur’an sebagai mitsaqan ghaliza(janji yang teramat berat, Q.S Annisa 4: 21). Hanya ada tiga mitsaqan ghaliza yang disebut al-Qur’an. Jadi kalau ada suami atau istri yang meremehkan perjanjian ini, percayalah, dia tidak layak untuk diperjuangkan..

Tepatnya menikah adalah menikah memang tentang berbagi ruang, tepatnya adalah mengempeskan ego untuk berbagi, tanpa kemampuan mengempeskan ego, rumah tak akan menjadi tangga, karena kita dua manusia yang memiliki ego lalu disatukan untuk saling berbagi, agar saya bisa menjadi pakaian yang nyaman dipakai bagi suami dan suami menjadi pakaian yang indah menutupi kekurangan saya.

– Hijrah Notes-

Advertisements

Author: Rindu Istiqomah

Hidup adalah Perjalanan Menuju Mati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s