018. Menangislah..

air-mata

Saya memiliki seorang sahabat, Meutia namanya, saya mengenalnya dari sejak kami masih anak anak yang berlarian menuju surau untuk belajar mengaji, dengan jilbab yang kedodoran dan sandal jepit, hingga kini saat waktu mendewasakan kami, kami masih tetap bersahabat, meski jarang bertemu tapi hati kita nyambung, kadang apa yang sedang ia rasakan mampu saya rasakan dan apa yang saya rasakan dirasakan olehnya, perempuan mungil bermata teduh, pemilik kulit putih dan gigi kelinci yang menjadi ciri khas sahabat saya ini, dia perempuan kuat karena beberapa kali lolos dari maut saat darahnya tidak stabil, iya, dia memiliki kelainan darah yang bisa membuat maut menghentikan napasnya kapan saja, dan dari beberapa kali saya menemaninya saat sakit, dia kuat dan lolos maut, Allah sepertinya sangat mencintainya, melihat dari ujian demi ujian yang mampu dilaluinya..

Baru baru ini saya bertemu dengannya di salah satu sujud masjid tempat biasa kami bertemu dibilangan kebayoran, disudut ini kami biasa saling bertukar cerita, mulai dari menangis bareng mengingat beratnya ujian, atau sekedar saling tersenyum mengingat masa masa jahil atau jahiliyah kami dulu, minimal kami berbagi cerita, tapi pertemuan kali ini agar berbeda, Meutia kehilangan senyumnya, dan saya kehilangan Meutia yang kuat yang saya kenal dulu, yang saya tahu ujian seberat apapun tak membuatnya tumbang, tapi kali ini saya melihat dia seperti diluluh lantakan oleh ujian, dihempas oleh gelombang yang maha dahsyat sehingga yang saya temui hanya isak tangisnya, tanpa cerita..

Iya, cerita yang saya tunggu tunggu tidak keluar dari mulut mungilnya, Meutia !! saya belum pernah selama mengenalnya melihatnya menangis hingga terguncang bahunya, meski isaknya pelan, guncangan dibahunya menunjukan beban yang mungkin tak sanggup lagi dipikulnya..

Dan hingga perjalanan pulang, hingga kami berpisah di parkiran, tak satu patah katapun keluar dari mulutnya, Meutia selalu begitu, hanya butuh seseorang memberikannya bahu untuk menampung tangisnya, hanya butuh seseorang memeluknya untuk sekedar mengubah airmatanya menjadi senyum, hanya butuh belaian kecil di punggunya untuk sekedar meringankan beban isaknya …

Menangislah ….

-Hijrah Notes-

 

Advertisements

Author: Rindu Istiqomah

Hidup adalah Perjalanan Menuju Mati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s