017. Waktu …

hour-glass

Beberapa hari ini saya merenung, bertanya pada diri sendiri lebih tepatnya “seberapa lama lagikah waktu yang saya miliki didunia ini?” jika umur saya seumur Khadijah, perempuan mulia istri Rasul yang meninggal di usia 65, maka berapa tahun lagi yang saya miliki? ah terlalu sedikit rasanya waktu tersisa, terlalu banyak yang tersia sia kemarin, baru sadar semua waktu berlalu dan semua yang berlalu tak akan pernah kembali.. bahkan sedetik berlalu tak bisa saya lawan, bergulir, melindas, menghapus, lalu berlalu…

Waktu telah menipu saya, membuat terlena dengan hal hal yang sia sia, hal hal yang tak bermanfaat dimata Allah, belum sempat dzikir pagi tahu tahu sudah sore, belum sempat sedekah banyak, tahu tahu uangnya sudah habis untuk makan, padahal makan itu kelezatannya hanya sebatas lidah, yang paling sering adalah waktu habis bersama gadget daripada bersama Al Quran, baru niat mau ngaji waktu sudah tergadaikan oleh social media, udah niat mau ikut liqo setiap minggu tiba tiba kesiangan karena urusan ini dan itu yang gak jelas. Mau Duha pagi pagi tiba tiba sudah ketemu orang dan matahari mulai meninggi dan adzan Dhuhur. Mau shalat awal waktu, dikamar mandi kelamaan melamun bersama gadget.. ah harusnya memang buang semua social media, seperti yang suami saya minta.

Kepinginnya tiap pagi membaca 1 Juz ayat ayat Al-Qur’an, menambah hafalan satu hari satu Ayat, tapi yaa itu hanya kepengen saja, kenyataannya tak satupun Ayat terhafal setiap hari, lagi lagi waktu merampas kesempatan, waktu masih saya habiskan untuk menilai orang lupa menilai diri sendiri, sibuk mencari kesalahan orang lalu merasa benar hanya karena dosa saya dan dosanya berbeda… astaghfirullah !! dan ini yang berat komitmen untuk ‘Tahajud dan Witir’, sekalipun hanya ‘3 Raka’at singkat, bablas kesirep dinginnya malam dan gak rela ninggalin selimut.

Mau sampai kapan berhura hura dengan waktu, sedang malaikat pencabut nyawa terus mengikuti, bahkan kain kafan saya mungkin telah tertenun, tak bisa saya melawan usia, tak bisa saya ingin terus muda dan melalukan semua yang saya inginkan, mau sampai kapan? karena mati tidak menunggu tua, mati tidak perlu pake alasan sakit, mati tak menunggu saya kaya, mati tak menunggu anak anak saya besar, NO.. !! kiamat kecil bisa datang kapan saja tanpa bisa saya hindari..

Sekarang saatnya habiskan waktu dengan semua yang bisa meringakan saya dihari pembalasan, berteman dengan Al Quran, bersilaturahmi dengan sang Khalik, tak ada lagi waktu yang boleh terlewati tidak untuk Allah, tidak untuk Ibadah.. semoga masih ada waktu melakukan jihad, taubat..

-Hijrah Notes-

Advertisements

Author: Rindu Istiqomah

Hidup adalah Perjalanan Menuju Mati

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s